Chakraprana, Berbagi dengan Energi

Secara bahasa, chakraprana berarti lingkaran energi.  Nah tapi Chakraprana mempunyai arti penting bagi Himpunan Mahasiswa Teknik Fisika ITB, yaitu salah satu    bentuk pengabdian keprofesian HMFT ITB.

Di tengah kepengurusan PM HMFT 2013/2014 terdapat tawaran dari LK untuk mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat di Sumedang, Jawa Barat. Setelah berdiskusi dengan banyak pihak, yaitu anggota PM, pihak Laboratorium Manajemen Energi, dan pihak KUD yang sering membantu warga desa di Jawa Barat, akhirnya diputuskan untuk membuat biogas di Sumedang, tepatnya di Desa Cijambu, Sumedang, Jawa barat, sekitar 10km dari jalan raya Sumedang. Untuk mendukung keberjalanan pembuatan biogas ini, beberapa anggota PM HMFT menemui pihak pembangun reaktor biogas, yaitu CV Energi Persada, dan salah satu rekanan pemerintah dalam upaya mendukung diversifikasi energi. Setelah diskusi dengan pihak biogas, selanjutnya dilakukan diskusi lagi dengan pihak Laboratorium Manajemen Energi untuk menentukan lebih lanjut tentang sistem yang ingin dibuat. Akhirnya, terpilihlah judul dari kegiatan ini “ CHAKRAPRANA – Pemanfaatan Kotoran Sapi Menjadi Biogas dan Penggunaan Sistem Terpadu untuk Menangani Overproduksi Metana pada Biogas di Desa Cijambu, Sumedang, Jawa Barat”.

Kegiatan ini sempat tertunda lama karena dana baru turun di bulan Desember 2013. Akhirnya di tahun 2014, kegiatan Chakraprana dilanjutkan lagi di kepengurusan PM HMFT 2014/2015 dan diketuai oleh R.Oktanio Sitradewa Ettyatno dari Divisi Pengabdian Masyarakat. Kita mulai menghubungi lagi pihak pembuat reaktor biogas, pihak Desa Cijambu, dan pihak Laboratorium Manajemen Energi. Awalnya, 19 Maret 2014 beberapa anggota PM dan kak Thomas menemui pihak biogas, yaitu Mas Yono untuk mendiskusikan sistem lain sebagai penambahan pada konstruksi reaktor biogasnya. Dari Mas Yono itu ada saran sistem flare, sistem monitoring, dan sistem pengadukan. Selanjutnya 22 Maret 2014 dilakukan survey ke Desa Cijambu, Sumedang oleh beberapa anggota PM HMFT. Di Desa Cijambu kita ke rumah mertua kepala desa sebagai rumah yang akan dibuatkan biogas. Rumah ini berdasarkan saran Kepala Desa Cijambu, Sumedang,  yaitu Pak Pipin. Di rumah ini terdapat empat sapi. Survey dilakukan bareng stafnya Mas Yono juga yaitu Mas Nandang. Kata Mas Nandang, rumahnya itu sesuai dan bisa dijadikan tempat pembuatan biogas. Berikut adalah desain dari reaktor biogas yang ada :

Berdasarkan desain tersebut terlihat bahwa terdapat kotoran sapi hasil biogas yang tertampung di slurry. Munculah ide nih untuk memanfaatkan kotoran sapi hasil biogas ini menjadi pupuk organik dengan teknik kascing. Di teknik kascing ini kita bekerja sama dengan CV Insan Muda Berdikari di Cisarua, Lembang  untuk memberikan penyuluhan mengenai teknik kascing kepada warga Desa Cijambu, Sumedang di mana mayoritas warga Desa Cijambu, Sumedang merupakan petani.

Setelah dilakukan persiapan, akhirnya tiba juga hari H pemasangan biogas dan penyuluhan teknik kascing di Desa Cijambu, Sumedang. Pemasangan biogas dilaksanakan pada tanggal 18 April 2014. Sebelum pemasangan, dilakukan penggalian untuk tempat reaktornya oleh warga Desa Cijambu, Sumedang.  Penyuluhan teknik kascing dilaksanakan pada tanggal 19 April 2014 di Aula Desa Cijambu, Sumedang. Acara penyuluhannya ini dilaksanakan malam hari karena di siang hari warga bekerja (mayoritas petani). Acara penyuluhan diawali dengan penampilan hadroh, sambutan dari perwakilan HMFT, sambutan Pak Kepala Desa, dan penyuluhan kascing dari pihak CV IMB. Setelah penyuluhan diberikan cinderamata dari pihak HMFT kepada Bapak Kepala Desa Cijambu, Sumedang dan kepada pihak CV IMB. Selain itu juga diberikan cinderamata berupa seperangkat alat hadroh, kesenian islam menggunakan alat musik semacam rebana yang sering diperdengarkan atau dimainkan untuk mengiringi lagu – lagu atau nasyid yang bernuansakan sholawat, kepada pihak Masjid As-Soleh Desa Cijambu, Sumedang agar anak-anak masjid tersebut tambah bersemangat untuk latihan. Selain penyuluhan juga diadakan pelatihan langsung mengenai teknik kascing ini. Antusiame terpancar di wajah warga. Selain itu pupuk organik yang dihasilkan juga memiliki kualitas lebih baik dibandingkan dengan pupuk kimia.

 Oleh: Rima Kurnia Putri