Jembatan Orang Tua dan Anak

jembatan ortu

Rabu sore (29/01), Ruang Seminar D3 Labtek VI dipenuhi massa HMFT. Saat itu, sedang ada acara bertajuk Jembatan Orang Tua Anak (JOTA). Acara yang digelar Divisi Hublu (Hubungan Luar) HMFT untuk menjalin komunikasi antara mahasiswa sebagai anak dan dosen sebagai orang tua pada dunia Teknik Fisika ITB.

JOTA hari itu adalah JOTA yang kedua selama kepengurusan HMFT periode 2013/2014. Pukul 16.15 acara dibuka oleh Nur Afifah (FT’11) dan Wahyu Abdi (FT’12). Mahasiswa Teknik Fisika dari berbagai angkatan menjadi peserta, dengan asisten akademik Narendra Kurnia Putra (FT’06) dan dosen muda Kemal Augusta (FT’00) sebagai pembicara hari itu.

Bapak Kemal Augusta atau biasa dipanggil Pak Kemal menceritakan bahwa ketika try out (TO) melihat ada pilihan Teknik Fisika. Beliau mengaku memang sangat menyukai Fisika dari kecil meskipun tumbuh di kalangan keluarga dokter. Terlebih serial Mac Gyver begitu populer kala itu. Akhirnya beliau mendaftar TF-ITB sebagai pilihan pertama dan FK – UNPAD sebagai pilihan kedua karena desakan keluarga. Di USA, teknik fisika menjadi pilihan karena dapat cepat beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang pesat. Hal ini karena TF berkembang secara komprehensif dan menyiapkan lulusannya sebagai pionir teknologi. Jika memasuki suatu perusahaan, TF biasanya masuk R&D (research and development).

Berbeda dengan Pak Kemal, dokter adalah impian Kang Naren dari kecil hingga SMA. Pilihan pertama dalam mendaftar ujian masuk adalah fakultas kedokteran. Ketika memasuki Teknik Fisika ITB, Kang Naren mengambil Laboratorium Fisika Medik dengan fokus penelitian ransel bersuspensi. Selanjutnya, beliau melanjutkan pendidikan S2 pada Instrumentasi Medik di Imperial College London.

Kang Naren yang melanjutkan studi di Inggris dan Pak Kemal yang melanjutkan studi di Jepang sama-sama menyepakati adanya perbedaan yang mencolok pada kehidupan kampus di luar negeri dan ITB. Di Osaka University, suasana kampus sangat kondusif untuk belajar. Mading-mading berisikan pengumuman-pengumuman seminar. Perbedaan tipe kemahasiswaan dilihat dari kestabilan politik di Jepang. Uniknya, di Jepang waktu itu, tidak ada sistem IP, yang biasa dilihat mahasiswa mengenai nilai adalah lulus atau tidaknya dari suatu mata kuliah. “Mereka benar-benar semangat ingin tahu, bukan sekedar nilai,” ujar Pak Kemal. Menurut Kang Naren, fasilitas riset yang disediakan di luar negeri memang menggiurkan. “Jadi, orang Indonesia harus lebih kreatif karena fasilitas yang digunakan. Itulah kelebihan orang Indonesia,” ucap Kang Naren.

“Ada dua alasan kenapa saya mau kembali ke Indonesia,” kata Pak Kemal ketika ditanya kembalinya ke Indonesia. Alasan Pak Kemal dulu untuk belajar di luar negeri adalah untuk bekerja di luar negeri, karena bagi beliau Indonesia waktu itu adalah kapal yang akan tenggelam. Jadi, salah satu cara menyelamatkan diri adalah mencari kapal lain, yaitu dengan pergi ke Jepang. Namun, Pak Kemal terharu ketika melihat mahasiswa S1 Teknik Fisika yang berada di bawah bimbingan TA Pak Hermawan sedang melakukan penelitian yang hampir sama dengan penelitiannya di Jepang. Muncul semangat beliau untuk menjadikan Laboratorium Komputasi Material TF ITB terbaik se-ASEAN.

Alasan kedua, perasaan jenuh untuk berkompetisi. Di Jepang, objek penelitian selalu fokus pada apa yang sudah dirintis sejak awal. Hal ini mengakibatkan adanya kejenuhan, tidak seperti Indonesia yang lebih mudah mengadakan kolaborasi antar disiplin ilmu. Apa perbedaan mahasiswa sekarang dan mahasiswa dulu? Mahasiswa sekarang lebih banyak mengalami distraksi. Fokus mereka terbagi pada banyak bidang. Tantangan mereka saat ini adalah fokus.

One thought on “Jembatan Orang Tua dan Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *