PENGMAS GOES TO PENGALENGAN FT. KESEKJENAN DAN PSDA

Pengmas kali ini berkolaborasi dengan Departemen Kesekjenan dan PSDA untuk datang kembali ke Pangalengan (yay!). Rencana awalnya kita diharuskan untuk kumpul di kampus pukul 09.00 WIB. Namun, seperti yang kita ketahui, salah satu kebiasaan anak ITB adalah NGARET. Jadi kita benar-benar kumpul sekitar pukul 10.00 WIB. Para Skullers yang sudah datang lebih awal memutuskan untuk sarapan bubur di depan ITB. Setelah semuanya datang, kita langsung berangkat dengan satu mobil dan lima motor.

Sampai di Pangalengan sekitar pukul 12.30 WIB, kita langsung menuju warung untuk makan indomie, ngeteh, ngopi dsb untuk menghangatkan badan (dingin coy) sambil bercanda ria, khas anak FT. Setelah perut kenyang, kita langsung menuju masjid untuk sholat dzuhur dan dilanjutkan dengan mengajar anak madrasah kelas 4. Skullers yang ikut kali ini lumayan banyak, jadi selain mengajar anak madrasah, ada juga yang cuma iseng bermain sama adik-adik yang sudah pulang madrasah.

Selain mengajar dan bermain, jangan lupa kita juga harus makan di Pangalengan, jadi ada yang kebagian tugas untuk belanja di pasar. Nah yang di pasar ini entah kenapa perginya lama. Ternyata (oh ternyata) mereka lama pergi karena ada drama yang terjadi. Pasarnya hilang! Loh? Iya, pasar yang semula ada di pinggir jalan itu, tiba-tiba tidak terlihat keberadaannya, yang tersisa di sana cuma reruntuhan bangunan yang akan dibangun kembali. Setelah berinisiatif tanya ke warga sekitar, baru diketahui kalau pasarnya dipindah sementara ke lapangan dekat pasar sebelumnya. Tapi gak berhenti di drama hilangnya pasar. Setelah mereka berdua selesai belanja, tiba-tiba (sebenarnya gak terlalu tiba-tiba sih, karena sejak mereka berangkat juga udah mulai gerimis) turun hujan yang cukup lebat. Jadilah mereka harus menepi ke teras pertokoan untuk menunggu hingga hujan reda. Sesampainya para pencari sayuran itu ke Bojongwaru (akhirnya!), kita langsung bergegas mengolah sayuran itu menjadi makanan yang bisa dilahap (udah laper lagi), selain arena yang mengajar di madrasah sudah selesai dari tadi.

Proses pengubahan bahan mentah menjadi makanan siap lahap (alias masak) ini dibuat se’sistematis’ mungkin. Masing-masing dari kita punya tugas. Dari yang mengambil peran sebagai koki utama dalam menyiapkan semua resep dan bumbu sampai yang hanya menjadi komentator, semua dibutuhkan demi terlahirnya makanan mengenyangkan untuk perut kita.

Adzan maghrib terdengar, sekaligus menandakan waktu makan yang sudah tiba (karena masakan sudah matang). Para skullers makan malam setelah selesai sholat maghrib. Para laki-laki sholat berjamaah di mushola, sedangkan yang perempuan sholat di tempat pak iman (basecamp kita). Ciri khas makanan di pengalengan adalah sayuran tanpa rasa pedas. Bukan, bukan karena tidak ada cabai. Tapi karena ada satu anggota di biro pengmas (dan selalu ikut ke pengalengan) yang tidak ‘cabai friendly’. Alhasil kita harus menyesuaikan makanan kita dengan selera makannya. Untung saat itu ada satu orang yang pintar membuat sambal, jadi bagi para penikmat cabai tetap bisa menikmati makanan dengan rasa yang nggak hambar-hambar banget. Proses makan berlangsung dengan sempit-sempitan di tempat seadanya, diiringi dengan bercandaan berisik, lagi-lagi khas anak FT.

Setelah kenyang, kita tidur. Gak deng, hehe. Kita briefing coy, buat besok. Bahan yang disiapkan oleh abil, kabiro pengmas kita, sudah cukup baik walaupun masih sangat kasar (thanks Abil!). Materi yang akan disampaikan dibahas satu persatu, kalimat perkalimat, kita diskusikan bersama sambil berdingin ria di tempat Pak Iman. Iya, dingin banget woy! Di briefing ini, selain membahas materi dan pembagian penyampaiannya, kita membahas rundown esok hari. Jam menunjukkan pukul 21.30, akhirnya briefing yang dipenuhi dengan hujatan dan bercandaan ala FT itu pun selesai. Sudah sangat malam bagi warga Bojongwaru untuk berada di luar pada jam itu. Skullers perempuan akhirnya berhasil memaksa beberapa lelaki untuk mengantar ke rumah Ibu Neng (tempat para perempuan menginap). Mereka yang sudah ditunggu sejak tadi oleh tuan rumah akhirnya datang juga, dan langsung dipersilahkan beristirahat. Di sisi lain, para lelaki pengantar tadi malah mampir ke warung kopi untuk ngopi, dan lalu tercetus ide untuk membuat nasi goreng, walau hanya dengan bumbu instan. Akhirnya mereka makan (lagi) dengan nasi goreng micin. Baru setelah itu, mereka kembali ke basecamp untuk beristirahat. Oh iya, tempat memasak dan basecamp tempat para laki-laki tidur berbeda, tapi sama-sama milik Pak Iman. Hari Sabtu berakhir dengan tidurnya para skullers di tengah dinginnya Bojongwaru.

Pagi tiba, jam juga sudah menunjukkan waktu dimana mereka harus memasak sarapan. Para perempuan di tempat Ibu Neng yang tadinya sudah bersiap menuju basecamp untuk memasak harus membatalkan rencananya. Mereka sudah disediakan sarapan (yay!). Bukan bermaksud untuk mt (makan teman), tapi memang rezeki tidak boleh ditolak. Akhirnya mereka makan terlebih dahulu, dengan nasi goreng plus telur mata sapi buatan ibu, yang dilengkapi dengan beberapa gorengan dan teh hangat. Pagi yang sempurna. Setelah kenyang, ternyata masih ada makanan yang tersisa. Dengan maksud untuk berbagi rezeki, akhirnya mereka mengundang dua laki-laki tercepat untuk datang ke tempat Ibu Neng untuk menghabiskan sisa makanan. Setelah menunggu agak lama, datanglah dua orang beruntung (atau cukup tega), yaitu Farhan (kahim) dan Abil. Perempuan cerdas FT memutuskan untuk meninggalkan mereka dan menyuruh mereka mencuci piring bekas sarapan itu. Tidak, bukan jahat, mereka hanya cukup cerdas untuk memanfaatkan sumber daya yang ada, selain karena mereka juga harus cepat pergi untuk membantu para lelaki kelaparan yang lain untuk menyiapkan sarapan.

Di sisi lain, di waktu yang lebih pagi, para laki-laki sudah bangun dari tidur dan memutuskan untuk ngopi-ngopi dulu sebelum memulai kegiatan mereka. Di tengah ngopi itu, Abil mengambil inisiatif untuk menyuruh para lelaki memasak, di jam yang lebih pagi dari yang dijanjikan dengan para perempuan. Akhirnya beberapa lelaki memulai kegiatan masak mereka. Beberapa lainnya ada yang kabur untuk pergi ke kebun teh untuk berfoto. Mendapat kabar dari perempuan mengenai jatah sarapan sisa, dua orang dari kebun teh yang cukup tega dan oportunis (Abil dan Farhan)  memutuskan untuk pergi ke rumah Ibu Neng, dan sisanya ke rumah pengabdi setan untuk melanjutkan sesi foto mereka. Sedangkan yang sudah memulai kegiatan memasak, tetap melanjutkan masak mereka (huhu kasihan).

Sesampainya skullers perempuan di tempat masak, saling hujat pun terjadi. Dua sisi memiliki argumen masing-masing. Laki-laki menyalahkan perempuan yang tega meninggalkan mereka dan sarapan lebih dulu, sedangkan para perempuan menghina pekerjaan memasak beberapa laki-laki kelaparan ini sangat lambat. Proses memasak ini benar-benar berjalan lambat, dua jam lebih, makanan belum matang juga. Jam menunjukkan pukul 09.00 WIb, waktu dimana para skullers seharusnya bertemu dengan anak-anak pengurus bank sampah, tetapi masakan baru matang. Mereka akhirnya makan dengan cukup terburu-buru, dan dengan sisa makanan yang cukup banyak. Karena banyak yang sudah sarapan terlebih dahulu, termasuk para model yang baru pulang dari berfoto di rumah pengabdi setan.

Pukul 09.15 akhirnya skullers datang ke dekat madrasah, tempat kita janjian bertemu dengan adik-adik pengurus bank sampah. Ya, waktu siap-siap kita memang cepat. Hanya modal cuci muka dengan air dingin, badan sudah terasa segar semua (tidak perlu mandi!). Cukup lama kita menunggu kehadiran adik-adik, akhirnya pada pukul 10.00 WIB acara pelatihan public speaking dimulai. Penyampaian materi sesuai dengan rencana dan perkiraan pada saat briefing. Terjadi kesulitan dalam hal partisipasi dari adik-adik. Tapi hal itu cukup dapat diatasi oleh rayuan maut dari nikmatnya beng-beng. Sepuluh buah beng-beng yang disiapkan abil habis dibagikan ke adik-adik yang relatif lebih aktif dari yang lain. Menjelang akhir sesi pelatihan, dilakukan praktik public speaking dimana seluruh peserta wajib berlatih berbicara didepan satu teman dan satu kakak skullers dalam lingkaran kecil. Pada puncak sesi pelatihan, dipilih dua perwakilan adik yang berani berbicara di depan seluruh peserta lain serta kakak skullers. Topiknya adalah mengenai bank sampah yang sedang mereka rintis dan tentunya dengan hadiah menarik, yaitu dua buah buku tamasya fisika karangan dosen FT. Penutupan pelatihan public speaking ditandai dengan penyerahan hadiah buku serta
sesi foto, yang kemudian disusul oleh adzan dzuhur.

22 21

Skullers dan adik-adik sholat dzuhur berjamaah di mushola. Seusai sholat, kita kembali menuju basecamp. Ada yang memilih untuk tidur sejenak, ada yang pergi berfoto ke kebun teh, dan sisanya berinisiatif untuk kembali membuat nasi goreng micin, mengingat masih banyak sisa nasi sarapan tadi. Berkat inisiatif mereka, skullers batal kelaparan. Semua skullers kembali makan, dengan dua jenis pilihan nasi goreng, yaitu nasi goreng micin biasa dan nasi goreng micin dengan boncabe. Untung masih ada sisa sayur yang dimasak tadi pagi, sebagai penetral nasi goreng micin itu. Tidak ingin terlalu berlama-lama membuang waktu, kita (lebih tepatnya beberapa orang saja) langsung sigap membereskan piring dan alat makan sisa makan siang untuk dicuci. Sisanya masih ada yang tidur, ada yang sadar untuk mulai membereskan barang-barang dan bersiap pulang. Dengan harapan sampai bandung tidak terlalu sore, pukul 14.00 WIB akhirnya kita berpamitan ke Bapak dan Ibu Iman. Sebelumnya para perempuan juga sudah berpamitan dengan Ibu Neng ketika meninggalkan rumah di pagi hari. Perjalanan pulang tergolong relatif lancar. Hanya terjadi sedikit drama, yaitu salah satu motor yang dikendarai skullers tiba-tiba mengalami rem blong ketika awal perjalanan. Sempat panik, akhirnya pengendara motor ini memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya dengan pelan. Untungnya, ketika setelah beberapa kilometer berjalan, (entah kenapa) rem kembali berfungsi, perjalanan dilanjutkan dengan tenang. Di akhir perjalanan juga terdapat sedikit cerita, yaitu ada satu motor beserta penumpangnya yang tiba-tiba tidak diketahui keberadaanya. Motor yang berjalan di depan mereka tidak melihat dimana mereka mulai mengambil jalan yang berbeda, motor yang di belakang mereka juga sudah ditinggal cukup jauh (bahkan hampir salah jalan karena belum hafal jalan). Sekitar pukul 16.00 WIB, skullers bermotor sampai kembali di depan kampus. Disinipun pengendara motor misterius itu belum ada kabar, padahal barang mereka dititipkan di mobil. Setelah ditunggu beberapa lama, akhirnya skullers lain memutuskan untuk meninggalkan sepasang pengendara motor itu untuk pulang ke kos masing-masing. Barang mereka yang di mobil pun dibawa dulu oleh pembawa mobil. Dan belakangan diketahui bahwa mereka baru mengambil barang mereka ke pembawa mobil malam hari. Kemana dan apa yang mereka lakukan? Tanyakan sendiri yang bersangkutan (hehe).

23
Begitulah cerita skullers ke Pengalengan kali ini, bulan September bersama Departemen Kesekjenan dan PSDA. Di bulan selanjutnya akan ada pengmas featuring Departemen PKK yang kembali ke Pangalengan. Nantikan keseruan selanjutnya!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *