Kelas Berbagi Seri 1: Lebih Dekat dengan Sosmas

Awal masa kepengurusan ini, Divisi Partnership dari Department of Social Services HMFT-ITB 2021/2022 berusaha menghadirkan kembali semangat sosial kemasyarakatan bagi massa. Pada Sabtu, 3 Juli 2021 kami mengundang Trindy Devy Astriyana (Rekayasa Pertanian 2018) selaku aktivis sosmas ITB untuk mengisi Kelas Berbagi Seri 1. Dimoderatori oleh Nawwaf (Teknik Fisika 2019), Trindy berbagi dengan massa HMFT-ITB mengenai kegiatan sosmas yang telah dilakukannya.

Trindy memaparkan, “Menurut aku, sosmas itu lebih ke belajar. Aku selalu berpikir bahwa apapun itu bentuk sosmasnya aku bakal terus belajar dan mudah-mudahan mereka juga bisa belajar dari aku. Definisi dari sosmas untuk masing-masing orang aku yakin juga pasti berbeda. Kalo aku, apalagi memang background dari skhole, sosmas itu ya belajar”. Trindy yang meyakini bahwa siapa saja bisa bersosmas, mengaku termotivasi untuk konsisten di dunia sosmas karena terbawa oleh lingkungan sekitar, terutama Skhole. Ia merasa suka dan nyaman ketika melakukan kegiatan sosmas.

Mengenai bentuk sosmas yang ideal, menurut Trindy balik lagi ke definisi dari diri kita sendiri. Dari Trindy, sosmas itu bisa memberi dan belajar juga dari mereka dan melanjutkan apa yang ia beri ke mereka. Harapan Trindy, ketika ia memberi, mereka juga bisa melanjutkan apa yang ia beri. Dulu ketika ia di DK (Diseminasi Khusus), kalau datang ke SMA maka alumni di SMA itu harus bisa melanjutkan apa yang Trindy beri atau bisa dibilang juga sustain (ada keberlanjutan). Menurutnya, sosmas itu tidak harus terjun ke desa. Bentuk kegiatannya bisa dari yang kecil banget hingga besar. Mungkin dalam bentuk donasi, seperti cukup dengan me-repost info donasi itu. Jadi, kegiatan sosmas itu tidak perlu pergi ke desa, punya komunitas, tapi dengan melakukan suatu hal yang sesederhana itu sudah cukup termasuk ke dalam kegiatan sosmas,

Menurutnya, nilai paling berharga yang bisa ia petik selama bersosmas, terutama saat kegiatan volunteering di Ruko Indonesia adalah kuatnya mereka dan kepekaan mereka. Seperti yang kita tau, mereka itu mendapatkan banyak stigma yang kurang baik. Bukan hanya stigma untuk anaknya namun juga orang tuanya. Banyak waktu itu orang tua yang cerita kalau anaknya banyak disudutkan. Mereka ingin anak mereka diperlakukan layaknya anak seperti

biasanya. Rasa kuat mereka lah yang Trindy ambil. Selain itu juga kepekaan mereka. Mereka sangat peka terhadap lingkungan sekitar. Kalau misal kita bad mood sedikit saja pasti mereka bisa merasakan.

Dalam kegiatan lain yang ia ikuti, yakni DK AMI (Diseminasi Khusus Aku Masuk ITB). Di DK itu sederhananya akan memberi materi ke teman-teman 3T tentang perguruan tinggi dan beasiswa-beasiswa yang ada. Trindy mengaku senang banget karena mereka sangat antusias dengan kegiatan ini. Dari situ ia sadar kalau mereka sebenarnya punya semangat dan ingin untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Trindy sampai merasa malu sendiri, ia yang sudah ada di perguruan tinggi sering malas-malasan. Semangat mereka jadi pelajaran untuk dirinya. Banyak anak-anak di sana yang berpikir bahwa mereka memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk kuliah. Mereka memiliki ketakutan untuk bersaing dengan anak-anak di pulau Jawa. Banyak juga cerita yang ia dapatkan bahwa setelah SMA mereka disuruh lanjut ke ladang aja. Cerita-cerita mereka sangat membuka pikiran Trindy dengan realita yang ada di daerah-daerah.

Saat pandemi, menurutnya di kondisi ini agak sulit, karena mereka yang biasanya menerima mahasiswa langsung jadi gak bisa. Kalau secara online pun juga tidak semua teman-teman punya ketersediaan akses. Jadi Trindy dan teman-temannya di Skhole berniat untuk membuat buku sesuai dengan bidang keilmuan mereka. Hambatan yang ia temui saat bersosmas selama pandemi adalah adik-adik itu kan butuh hp buat belajar online, tapi kakak-kakak mereka juga butuh hp buat belajar juga. Tapi menurut Trindy, kalau ada hambatan pasti ada juga peluang, Peluang bersosmas saat pandemi itu menurutnya kita bisa lebih bebas untuk mengasah kreativitas dan berinovasi. Saat pandemi, dukanya ia rasakan karena tidak bisa bertemu secara langsung. Tapi sukanya kondisi ini memaksanya untuk berinovasi dan juga sebenarnya pengmas yang diakukan bisa menjangkau lebih banyak orang.

Walaupun menurutnya semangat massa kampus dalam bersosmas menurun selama pandemi, ia tetap menjaga semangat sosmasnya dengan selalu berpikir pasti ada yang membutuhkannya jadi ia harus membantu walaupun sekecil apapun itu. Dan sangat perlu diingat-ingat lagi sebenarnya tujuan awal kita bersosmas itu apa. Menurutnya, cara menarik minat massa dalam sosmas adalah mengemasnya dalam acara-acara bersama, paling sederhana adalah dengan donasi yang dikemas sekaligus dalam kegiatan lain.

Dari Kelas Berbagi Seri 1 ini, kami dapat menyimpulkan bahwa bentuk sosmas itu gak harus besar, terjun ke desa, dan berdampak langsung ke masyarakat tapi banyak sekali hal sederhana yang bisa teman-teman lakukan. Jangan lupa tetap semangat dalam bersosmas.

#HandsOfCollaborationPost Instagram @lentera.hmft: https://www.instagram.com/p/CRLXOE6MQlU/

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *